Senin, 19 November 2018

Untuk Aku

Untuk orang sepertiku
berharap adalah setiap udara yang ku hirup
impian adalah setiap kata yang ku lafalkan

Untuk orang sepertiku
Menunggu tidak akan pernah membosankan
Karena, aku terbiasa bersenda gurau dengan kesendirian
Karena, aku terbiasa bercerita bersama kesunyian

Untuk orang seperti aku
Cemas adalah kebutuhan
Dan iklas adalah nutrisi untuk bertahan

Untuk yang sepertimu, mungkin

Aku bukan jawaban.

Minggu, 16 September 2018

Bendungan sigura-gura 6, no. 15.

16 September 2018.

Memiliki daya ingat cukup baik terkadang menyusahkan, apalagi ketika berusaha untuk biasa saja dalam menghadapi kata berpisah. Pagi ini terbangun di ruang menyendiriku, seperti biasa tidak ada yang nampak benar-benar berbeda, disain barang-barang di ruang kecil inipun tidak ada yang berbeda karena kesannya akan selalu sama, yaitu berantakan. Aku benar-benar sudah tidak perduli tata letak ruangan lagi, toh semuanya akan segera ku karduskan bersama kenangan yang ada di sini untuk ku bawa pulang.

Untuk menyegarkan diri, beralih ke roof top kosan adalah cara terbaikku. Menyendiri saat mata hari terbit atau terbenam, ah entah kapan aku mulai semelankolis ini. Tempat ini indah, objeknya selalu sama tapi kesan yang diberikan akan selalu berbeda, percayalah! Ah tapi maaf aku sepertinya sudah tidak memiliki banyak waktu untuk mengajak kalian merasakan perasaan yang sama ketika di sini.

Hari ini rasanya memang berbeda, di atap ini biasanya ku habiskan untuk berfikir tentang “Apa kabar keluargaku? Apa mereka baik-baik saja?” atau “Bagaimana adik-adikku di komisariat, apakah setiap hari mereka mendapatkan nustrisi wacana yang cukup? Jangan sampai mereka tumbuh dengan sangat pragmatis” bahkan “Apalagi yang harus ku tuliskan untuk menyelesaikan skripsi ini?” hari ini berbeda, ada emosi yang ingin meluap keluar.

Tepat hari ini, 6 tahun 23 hari sudah aku di kota ini. Aku ingat sekali waktu itu tanggal 23 Agustus 2012, hari aku harus datang ke kota ini dengan alasan melanjutkan studi, tidak bersyukur yang dapat ku gambarkan kala itu. Menyedihkan, harus berkuliah di kota yang tidak pernah aku harapkan dan jauh, rasanya amat sangat jauh dari rumah ditambah dengan sederet kegagalan untuk berkuliah di kampus impan. Di pesawat, aku hampir menitikkan air mata tapi maaf aku masih sangat kuat kala itu, gairah remaja dengan gengsi dan ego yang diutamakan menjadi perisai terbaik untuk tidak menangis.

Kalian tenang saja, hari ini aku juga tidak berencana untuk menangis, tapi terkadang mataku berkaca-kaca ketika berada di roof top ini, pikirku hanya karena dinginnya udara kota ini bercampur dengan suhu tubuh bangun tidur yang masih hangat. Kalian harus tahu, aku sudah sangat hafal tentang diriku dan kota ini, setiap yang terjadi aku pasti tau. Jadi, yang aku katakan itu benar bahwa aku tidak berencana untuk menangis.

Ah, 6 tahun ini waktu yang lama tapi sebentar, lama untuk perkuliahanku dan sangat sebentar untuk aku menghabiskan waktu lebih lama di sini. Hari ini, aku bersyukur takdir melemparku jauh ke sini, tidak membiarkanku hidup sesuai rencana remajaku. Terlalu banyak hal yang harus aku syukuri alih-alih mencaci maki atas takdir yang mungkin memang sudah digariskan. Kalau tidak, aku mungkin akan selalu mengutamakan ego kebanding mengedepankan sisi simpati dan empati kemanusiaan. Hal terbaik dalam hidup adalah mengambil sisi positif dari tiap perjalanan yang kita mulai dan juga setiap yang kita mulai harus kita akhiri.

Malang santai sayang.
Adhan.

Senin, 03 April 2017

Terbatas

Imaji dijeruji
Dibiarkan mati
Tidak berhati

Kebebasan ditebas
Dibiarkan lepas
Tidak berbelas

Suara dibungkam
Dibiarkan karam
Tidak berderam

29 Maret 2017
(adhnn)

Jangan Lupa.


Kami pernah lelah
Bukan tak tau arah
Cuma istirahat
Tidak berarti minggat
Kami bosan taktik
Apalagi intrik.

Kami pernah memendam
Tapi tidak hanya diam
Memberi reaksi
Bukan tanpa subtansi
Tidak berhenti
Apalagi mati.

23 Maret 2017
(adhnn)

Tentang Kamu.


Rasa ini bukan dogma
Apalagi doktrin semata
Ia tumbuh sejak lama
Dari awal kita bertatap mata

Rindu ini semakin merajai
Mengingat tiap-tiap janji
Apalah arti mencintai
Jika bersama hanyalah mimpi

Semua ini tentang kamu
Menanam rasa, memupuk rindu.

03 april 2017
(adhnn)

Senin, 24 Oktober 2016

ini ketidakjelasan yang semakin tidak diperjelas.

tidak ada yang seharusnya diceritakan.
ketiadaan tersebut yang akhirnya memaksa untuk dituliskan.

kosong dan gelap.

tidak terlihat, tapi tampak melalui rasa.

tidak sendiri.

tapi ku tau sendirian.

hanya sendiri.

tapi ada suara-suara berbeda.

ini terlalu jauh untuk tidak berjalan, terlalu dekat dari awal perjalanan.

ini terlalu ramai untuk kesendirian, terlalu sepi untuk beranjak sendiri.
ini terlalu terang untuk terlelap, terlalu gelap untuk memahami.

Selasa, 07 Juli 2015

mimpi


Jika diizinkan memilih, 
ingin aku terjebak dalam mimpi.
Menggontrol semua apa yang terjadi,
sesuai kehendak sendiri.
Walau sesekali mimpi dikejar antah berantah hidup ini, 
yang ku tau ini hanya mimpi.
memeluk mereka yang kucintai, 
walaupun ini hanya mimpi, 
setidaknya kasihku tersampaikan 
dan rinduku terobati.